TAKSONOMI MEDIA

 

TAKSONOMI MEDIA

 

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok

Taksonomi Media

Disusun Oleh:

                                    Faizzah Amatullah                   (1201110009)

Maulana Nur                            (1201110010)

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2013

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Salah satu bidang pengetahuan terapan yang diharapkan semakin memberi sumbangan bagi perkembangan pendidikan di tanah air ialah bidang teknologi. Kemampuan untuk memanfaatkan teknologi modern dalam upaya pengembangan, tentu saja sangat banyak tergantung pada jumlah dan kemampuan para ahli dalam bidang teknologi.

Dalam pengertian teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem instruksional di samping pesan, orang, teknik latar dan peralatan. Pengertian media ini masih sering dikacaukan dengan peralatan. Media atu bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan mempergunakan peralatan. Peralatan atau perangkat keras (hardware) merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut (AECT,1977).

Dengan masuknya berbagai pengaruh kedalam khazanah pendidikan seperti ilmu cetak mencetak, tingkah laku (Behaviorisme), komunikasi dan laju perkembangan teknologi elektronik, media dalam perkembangannya tampil dalam berbagai jenis dan format (modul cetak, film, televisi, film bingkai, film rangkai, program radio, komputer dan seterusnya) masing-masing dengan ciri-ciri dan kemampuannya sendiri.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa itu  Taksonomi..?
    2. Bagaimana pendapat Taksonomi Media menurut para ahli?
    3. Apa sajakah perbedaan Taksonomi menurut Pendapat Ahli..?

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. 1.     Pengertian Taksonomi

Kata taksonomi diambil dari bahasa Yunani tassein yang berarti untuk mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Di mana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih spesifik.

Adapun taksonomi dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula disebut sebagai “Taksonomi Bloom”.

Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan, melalui saluran atau perantara tertentu, ke penerima pesan. Di dalam proses belajar mengajar pesan tersebut berupa materi ajar yang disampaikan oleh dosen/guru, sedang saluran atau perantara yang digunakan untuk menyampaikan pesan/materi ajar adalah media pembelajaran atau disebut juga sebagai media instruksional. Fungsi media pembelajaran dalam proses belajar mengajar adalah untuk : (1) memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis, (2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, (3) menghilangkan sikap pasif pada subjek belajar, (4) membangkitkan motivasi pada subjek belajar. Untuk mendapatkan gambaran yang agak rinci tentang macam-macam media pembelajaran, perlu diadakan pembahasan seperlunya tentang taksonomi media pembelajaran.

 2. Taksonomi Media Menurut Pendapat Ahli

  1. Taksonomi menurut Rudy Bretz

Bretz (1972) mengidentifikasikan ciri utama media menjadi tiga unsur, yaitu : suara, visual, dan gerak. Media visual sendiri dibedakan menjadi tiga, yaitu: gambar, garis, dan simbol, yang merupakan suatu bentuk yang dapat ditangkap dengan indera penglihatan. Di samping ciri tersebut, Bretz (1972) juga membedakan antara media siar (telecomunication) dan media rekam (recording), sehingga terdapat delapan klasifikasi media, yaitu:

1)      Media audio visual gerak,

2)      Media audio visual diam,

3)      Media visual gerak,

4)      Media visual diam,

5)      Media semi gerak,

6)      Media audio, dan

7)      Media cetak.

         2. Hirarki Media Menurut Duncan

Duncan menyusun taksonomi media menurut hirarki pemanfaatannya untuk pendidikan.Dalam hal ini hirarki disusun menurut tingkat kerumitan perangkat media. Semakin tinggi satuan biaya, semakin umum sifat penggunaannya. Namun sebaliknya kemudahan dan keluwesan penggunaannya, semakin luas lingkup sasarannya.

         3. Taksonomi Media Menurut Briggs

Taksonomi oleh Briggs lebih mengarah kepada karakteristik siswa, tugas instruksional, bahan dan transmisinya. Briggs mengidentifikasikan tiga macam media yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain: objek, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film bingkai, film rangkai, film gerak, televisi dan gambar.

        4. Taksonomi Media Menurut Edling

Menurut Edling media merupakan bagian dari unsur-unsur rangsangan belajar, yaitu dua unsur untuk pengalaman visual meliputi kodifikasi subjek audio, dan kodifikasi objek visual, dua unsur pengalaman belajar tiga dimensi, meliputi: pengalaman langsung dengan orang, dan pengalaman langsung dengan benda-benda Dipandang dari banyaknya isyarat yang diperlukan, pengalaman subjektif, objektif, dan langsung menurut Edling merupakan suatu kontinum kesinambungan pengalaman belajar yang dapat disejajarkan dengan kerucut pengalaman menurut Edgar Dale.

 3.     Perbedaan Pendapat Para Ahli Tentang Taksonomi Media

Dari Beberapa pendapat ahli media ternyata terdapat perbedaan mengenai taksonomi media berikut perbedaan pendapat pada rahli media

Perbedaan

Menurut

Pendapat

Penekanan Pendapat

Rudy Bretz

Mengklasifikasikan  ciri utama media menjadi 3 unsur yaitu: visual, suara dan Gerak

Mengklasifikasikan media menjadi 8 yaitu : Media audiovisual gerak, media audio visual diam, media visual gerak, media visual diam, media semi gerak, madia audio, media cetak

Rudy bretz menekanan Pada media yang digunakan dalam mengajar

Duncan

Hierarki media menurut Duncan memepertimbang kan aspek aspek antar lain : biaya, kelangkaan, keluesan, cakupan sasaran, pengadaan, kemudahan Duncan menekankan pada pemanfaatan media dalam pemanfaatanya dalam pendidikan menurut kerumitan perangkat media. Semakin tinggi satuan biaya, sekin umum sifat penggunanya, sebaliknya semakin mudah dan luwes penggunanya, maka semakin mudah dan luwes penggunanya.

Briggs

Briggs mengidentifikasi media menjadi 13 yaitu : obyek, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film rangkai, film , Tv, Gambar TV Briggs lebih mengarah pada karakteristik siswa, tugas instruksional, bahan dan transmisinya. serta stimulus respon yang tercipta dari media tersebut

Gagne

Gagne membuat 7 macam pengelompokanmedia yairu : benda untuk didemonstrasikan, komunikasilisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Gagne menekankan pada kemampuan siswa memenuhi fungsi menurut tingkatan hierarki belajar yang dikembangkan

Schramm

Mengklasifikasikan media menjadi media yang mahal, murah dan sederhana Penekanan media menurut Schramm berdasarkan kerumitan media dalam penggunaanaya.

Endling

Menurut Edling media merupakan bagian dari 6 unsur rangsangan belajar, yaitu dua untuk penglaman  audio yanag meliputi modifikasi visual dan modifikasi obyektif audio Dalam hal pemilihan media menurut kemampuan siswa berdasarkan kerucut pengalaman menurut edgar dale

BAB III

PENUTUP

  1. C.   Kesimpulan

Taksonomi Media merupakan pengelompokkan suatu media atau teknologi yang berhubungan dengan pendidikan. Adapun taksonomi dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks.

DAFTAR PUSTAKA

Sadiman, Arief S. 2011. Media Pendidikan. Jakarta : PT. RAJAGRAFINDO PERSADA.

http://estehgulabatu.wordpress.com/2011/11/10/taksonomi-media/

http://diditnote.blogspot.com/2013/01/klasifikasi-media-pembelajaran.html

Perkembangan Anak

MAKALAH PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Ilmu pendidikan Anak Oleh

Anita Rosalina, M.Pd

Disusun Oleh:

Miswahyuningsih         (1201110008)

Faizzah Amatullah       (1201110009)

Maulana Nur                (1201110010)

            Anis Laksadewi                       (1201110011)

Siti Nur Izzati               (1201110012)

Ismi indiyanti               (1201110013)

Bias oktawati utami     (1201110014)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2012

 

BAB I

PENDAHULUAN    

 

1.1. Latar belakang

 

Anak merupakan titipan tuhan yang harus kita jaga dan kita didik agar ia menjadi manusia yang berguna. Secara umum anak mempunyai hak,kewajiban dan kesempatan untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki terutama dalam bidang pendidikan.

Setiap anak dilahirkan bersamaan dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Potensi dari diri anak merupakan tugas orang tua dan guru untuk dapat menemukan potensi tersebut. Dalam bidang pendidikan seorang anak dari lahir memerlukan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan disertai dengan Pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembangannya akan sangat membantu dalam menyesuaikan proses belajar bagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing, baik secara intelektual, emosional dan sosial.

Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini merupakan masa – masa berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya.Untuk itu pendidikan untuk usia dini dalam bentuk  pemberian rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak. Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumberdaya manusia. Tidak heran apabila banyak negara yang prihatin terhadap penyelenggaraan pendidikan anak usia dini.

Memang Pendidikan Anak Usia Dini bukanlah satu-satunya yang paling penting bagi kesuksesan seorang anak di masa depan. Namun, hal tersebut merupakan satu diantara banyak hal penting yang harus diperhatikan. Karena kematangan pendidikan sejak usia dini sangat berpengaruh bagi perkembangan anak dari berbagai aspek kecerdasan. Selain itu dengan Pendidikan Anak Usia Dini, anak akan menjadi lebih matang dan siap dalam menghadapi dunia sekolah.

Pendidikan anak usia dini merupakan tempat yang tepat dan cukup dibutuhkan anak untuk menghadapi masa depannya. Pendidikan anak usia dini akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak, cara bersosialisasi, problemsolving (memecahkan masalah), negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta dapat belajar berbagai macam bahasa.

Anak adalah amanah Allah kepada orangtua, dan sebagai orangtua kita dituntut memberikan pendidikan yang semaksimal mungkin, tentunya sebagai umat muslim kita memberikan pendidikan itu sejalan dengan pedoman dasar yang bersifat hakiki yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist. Sebagai pendidik dan orangtua yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya, maka diperlukan beberapa metode-metode pengembangan pembelajaran agama Islam yang harus dimiliki oleh pendidik agar dalam proses pendidikan itu menghasilkan generasi muslim yang mencerminkan nilai-nilai Islami baik sisi spiritual maupun mentalnya.

 

1.2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Pola belajar pada anak usia dini
  2. Bagaimana islam mengajarkan tentang anak usia dini
  3. Karakteristik perkembangan anak usia dini

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pola belajar anak usia dini

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dimasa sekarang sangat penting bagi tumbuh kembang anak-anak kita, khususnya di usia 0 sampai dengan 6 tahun. Hal ini sangat penting untuk perkembangan anak khususnya dalam perkembangan perilaku, bakat, pengetahuan. Pada masa-masa usia tersebut anak sangat peka dengan segala sesuatu dilingkungannya. Apabila lingkungan mengajarkan hal yang positif mengarah ke perilaku yang membuat anak terdidik dengan baik, maka anak akan terbentuk baik pila pola pendidikan dan perilakunya. Untuk itu diperlukan pola pembelajaran yang tepat bagi anak usia dini.

Kebanyakan orangtua belum dapat mengamati proses tumbuh kembang anaknya secara utuh. Padahal, masa tumbuh kembang adalah tahapan awal dalam proses hidup seorang anak yang amat sensitif dan peka. Sifat kelembutan dan penuh kasih sayang merupakan modal utama bagi orangtua dalam mengasuh putra-putrinya secara optimal. Proses pertumbuhan anak hingga remaja adalah proses yang penuh menyenangkan dan membahagiakan..tapi terkadang juga pada masa anak-anak mereka banyak mengalami kesulitan misalnya anak itu rewel dsb, hal Inilah bagi orangtua, disarankan agar mendidik buah hatinya dengan cinta-kasih dan penuh pengertian tentang kemauan dan karakter anak. Karena itu, dalam keadaan suka maupun duka, orangtua harus mampu menunjukkan kearifan budinya dengan penuh kesabaran, kejelian, keuletan dan kedewasaan.

  1. Islam mengajarkan anak usia dini

Anak adalah aset bagi orang tua, dan di tangan orang tualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya anak merupakan fondasi yang paling mendasar bagi terbentuknya sebuah bangunan masyarakat. Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik, dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), inteligensi (daya pikir, cipta, kecerdasan emosi, spiritual), sosial, emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Anak merupakan invests unggul untuk melanjutkan kelestarian peradaban sebagai penerus bangsa, maka haruslah diperhatikan pendidikan dan hak-haknya. Orang tua memiliki tugas yang amat penting dalam menjaga dan memperhatikan hak-hak anak. Menurut islam bahwa makhluk yang paling dicintai allah adalah anak-anak, sebagaimana ditegaskan oleh rasulullah, bahwa sesungguhnya allah tidak murka lantaran sesuatu sebagaimana dia murka lantaran (penindasan atas ) para waita dan anak-anak.

Islam menyatakan bahwa usaha orangtua dan para pendidik dalam membina dan mendidik anak serta memenuhi kebutuhan mereka adalah sama dengan ibadah dan bejuang dijalan allah. Dan rasulullah bersabda bahwa satu hari bagi seorang pemimpin yang (bersikap) adil jauh lebih baik dari pada ibadah dari 70tahun. Setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya. Bertahan dan tabah dalam menghadapi kesulitan kehidupan rumah tagga dan anak merupakan jihad dijalan Allah.

Aktivitas belajar sangat terkait dengan proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan terhadap pentingnya ilmu. Al-qur’an dan Al- sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan (wisdom), serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Di dalam al-Qur’an, kata al-‘ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali. Beberapa ayat pertama, yang diwahyukan kepada Rasulullah saw., menyebutkan pentingnya membaca, pena, dan ajaran untuk manusia: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmullah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq/96:1-5)”.

 

  1. Karakteristik perkembangan anak usia dini

Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis, sosial, moral dan sebagainya. Masa kanak-kanak juga masa yang paling penting untuk sepanjang usia hidupnya. Sebab masa kanak-kanak adalah masa pembentukan pondasi dan masa kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya. Sedemikian pentingnya usia tersebut maka memahami karakteristik anak usia dini menjadi mutlak adanya bila ingin memiliki generasi yang mampu mengembangkan diri secara optimal. Pengalaman yang dialami anak pada usia dini akan berpengaruh kuat terhadap kehidupan selanjutnya. Pengalaman tersebut akan bertahan lama. Bahkan tidak dapat terhapuskan, walaupun bisa hanya tertutupi. Bila suatu saat ada stimulasi yang memancing pengalaman hidup yang pernah dialami maka efek tersebut akan muncul kembali walau dalam bentuk yang berbeda. Beberapa hal menjadi alasan  pentingnya memahami karakteristik anak usia dini. Sebagian dari alasan tersebut dapat diuraikan sebagaimana berikut :

a)      Usia dini merupakan usia yang paling penting dalam tahap perkembangan manusia, sebab usia tersebut merupakan periode diletakkannya dasar struktur kepribadian yang dibangun untuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu perlu pendidikan dan pelayanan yang tepat.

b)       Pengalaman awal sangat penting, sebab dasar awal cenderung bertahan dan akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak sepanjang hidupnya, disamping itu dasar awal akan cepat berkembang menjadi kebiasaan. Oleh karena itu perlu pemberian pengalaman awal yang positif.

c)       Perkembangan fisik dan mental mengalami kecepatan yang luar biasa, dibanding dengan sepanjang usianya. Bahkan usia 0 – 8 tahun mengalami 80% perkembangan otak dibanding sesudahnya. Oleh karena itu perlu stimulasi fisik dan mental. Ada banyak hal yang diperoleh dengan memahami karakteristik anak usia dini antara lain :

–          Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan oleh anak yang bermanfaat bagi perkembangan hidupnya.

–          Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak sehingga dapat memberikan stimulasi kepada anak agar dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik.

–          Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.

–           Menaruh harapan dan tuntutan terhadap anak secara realistis.

–           Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan keadaan dan  kemampuan.

d)      Usia 0-1 tahun

–          Pengembangan fisik, Dapat menggerakkan anggota tubuhnya dalam rangka latihankelenturan otot tangan, otot punggung dan otot kaki.

–          Pengembangan kognitif, Merespon berbagai reaksi (suara, cahaya, gerak, rangsangan) darilingkungan sekitar dan mengenal benda-benda yang ada di sekitar

–           Pengembangan bahasa, Dapat mereaksi terhadap suara atau bunyi dan mengeluarkan suarasuara

–          Pengembangan sosial emosional, Mengenal dan bereaksi terhadap rangsangan dan dapatmengungkapkan emosi yang wajar

–           Pengembangan seniBergerak bebas mengikuti irama musikb.

e)      Usia 1-3 tahun

–           Pengembangan fisik, Dapat menggerakkan anggota tubuhnya dalam rangka latihankelenturan otot punggung dan kaki serta meningkatkan keseimbangan

–           Pengembangan kognitif, Mengenal dan memahami berbagai konsep sederhana dalamkehidupan sehari-hari

–          Pengembangan bahasa, Dapat bereaksi terhadap suara atau bunyi yang didengarnya, mengertiisyarat dan perkataan orang lain serta mengucapkan keinginannyadalam bentuk tingkah laku dan ucapan sederhana.

–          Pengembangan sosial emosional, Menaruh minat dan percaya terhadap orang lain dan mampumengekspresikan emosinya, dapat berpisah dari ibunya dan mulaimengenal kebersihan.

–          Pengembangan moral dan agama, Dapat mengucapkan do’a pendek dan meniru tingkah orang dewasadalam beribadat.

–          Pengembangan seni, Dapat menggerakkan tubuhnya untuk melakukan berbagai gerakansesuai dengan irama musik, menciptakan berbagai kreasi sesuai yangdicontohkan.

f)       Usia 4-6 tahun

–           Pengembangan fisik, Dapat menggerakkan anggota tubuhnya dalam rangka latihankelenturan otot, dan terjadinya koordinasi mata dan tangan sebagai persiapan untuk menulis.

–          Pengembangan kognitif, Dapat mengenali, membandingkan, menghubungkan, menyelesaikanmasalah sederhana dan mempunyai banyak ide tentang berbagaikonsep-konsep dan gejala sederhana yang ada di lingkungan.

–          Pengembangan bahasa, Dapat berkomunikasi secara lisan untuk menjawab pertanyaan,bercerita, memberi informasi dan menulis dengan simbol yangmelambangkannya serta memperkaya penguasaan kosakata.

–          Pengembangan sosial emosional, Mudah bergaul dan bekerjasama dengan orang lain serta mulai dapatmengendalikan emosinya.

–           Pengembangan modal dan agama, Dapat melakukan ibadah, terbiasa mematuhi aturan dan dapat hidupbersih.

–           Pengembangan seni, Dapat mengungkapkan gagasan dan mencipta berbagai kreasi denganmenggunakan berbagai media.

Menurut Montessori, paling tidak ada beberapa karakteristik pada anakusia dini, antara lain:

  1.  Sejak lahir sampai usia 3 tahun, anak memiliki kepekaan sensoris dandaya pikir yang sudah mulai dapat menyerap pengalaman-pengalamanmelalui sensorinya.
  2. sia satu setengah tahun, sampai kira-kira 3 tahun, mulai memilikikepekaan bahasa dan sangat tepat untuk mengembangkan bahasanya(berbicara, bercakap-cakap).
  3.  Masa usia 2-4 tahun, gerakan-gerakan otot mulai dapat dikoordinasidengan baik, untuk berjalan maupun untuk bergerak yang semi rutin danyang rutin, berminat pada benda-benda kecil dan mulai menyadari adanyaurutan waktu (pagi, siang, sore dan malam).
  4.  Rentang usia 3 sampai 4 tahun memiliki kepekaan untuk peneguhansensoris, semakin memiliki kepekaan indrawi, khusus pada usia sekitar 3-4 tahun memiliki kepekaan menulis dan pada usia 4-6 tahun memilikikepekaan yang bagus untuk membaca.Meskipun setiap anak bersifat unik, mereka memiliki kecepatanperkembangan yang berbeda, namun pada dasarnya terdapat karakteristiktertentu yang mewarnai perilaku mereka pada setiap tahapnya. Pada anak prasekolah, karakteristik perilaku yang jelas terlihat adalah konsep diri yangmulai berkembang. di samping itu, egosentrisme juga mewarnai perilakuanak-anak usia 3-6 tahun. Adapun belajar berempati dan imajinasi yang kainberkembang merupakan karakteristik mereka yang lain.

BAB III

KESIMPULAN

Seperti yang kita telah menegaskan seluruh seri artikel ini perkembangan, setiap anak berkembang dengan kecepatan sendiri. Banyak faktor, baik internal maupun eksternal, dapat mempengaruhi tingkat anak-anak dari perkembangan emosional. Secara internal, temperamen (komponen bawaan atau genetik dari kepribadian individu) dapat mempengaruhi bagaimana anak menanggapi dunia emosional. Anak-anak yang memiliki lebih santai temperamen cenderung memiliki waktu yang lebih mudah belajar untuk mengatur emosi mereka sendiri serta untuk merespon emosi orang lain lebih positif. Anak-anak yang memiliki temperamen sulit atau lambat-to-hangat-up cenderung berjuang untuk mengatur emosi mereka sendiri dan biasanya akan bereaksi terhadap emosi yang kuat orang lain dengan menjadi tertekan sendiri. Secara eksternal, peran model dan lingkungan juga akan mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap dunia emosional. Teori ekologi Bronfenbrenner ini membahas mikro, meso, dan makro-tingkat pengaruh. Selama anak usia dini, tingkat langsung, atau mikro, lingkungan anak terdiri dari keluarga dan pengasuh langsung seperti guru dan pengasuh. Anak-anak dengan pengasuh yang menunjukkan kehangatan, kasih sayang, pengertian, serta perhatian yang tulus terhadap orang lain dan membantu juga akan belajar untuk menunjukkan empati dan pro-sosial perilaku masa kanak-kanak kemudian, remaja, dan dewasa. Anak-anak yang menyaksikan pengasuh pemodelan respon emosional sebagian besar marah, menghukum, dan dingin akan berjuang lebih untuk mengembangkan empati dan perilaku prososial

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan hidayah dan inayahNya, sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar, dengan judul “DEMOKRASI MENURUT PANDANGAN ISLAM”

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan,maka saran dan kritik dapat menyempurnakan makalah ini.

Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak,khususnya para pendidik anak usia dini.

 

 

 

Purwokerto, 27 April 2013

 

 

Tim penulis

 BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Pada Saat ini banyak sekali Negara yang menganut Sistem Demokrasi sebagai sistem pemerintahannya. Demokrasi sendiri artinya sistem yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi sering diartikan sebagai penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan persamaan hukum. Dalam tradisi Barat, demokrasi didasarkan pada penekanan bahwa rakyat seharusnya menjadi pemerintah bagi dirinya sendiri dan wakil rakyat seharusnya menjadi pengendali yang bertanggung jawab terhadap tugasnya. Oleh karena rakyat tidak mungkin rakyat mengambil keputusan karena jumlah terlalu besar maka dibentuklah dewan perwakilan rakyat.

Sistem ini popular karena melibatkan masyarakat merupakan komponen utamanya. Pemerintah dipilh langsung oleh rakyat yang berfungsi sebagai penyalur aspirasi dan membuat kebijakan untuk kepentingan rakyat demi kesejahteraan rakyat. Sistem Demokrasi juga digunakan di Indonesia dengan berdasarkan Pancasila. Indonesia memiliki Badan Legislatif yang anggotanya merupakan wakil rakyat. Rakyat juga berwenang untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Dalam Islam, demokrasi sudah diajarkan oleh Rasulullah.

  1. B.     PERUMUSAN MASALAH
    1. Pengertian Demokrasi..?
    2. b.      Bagaimana Pandangan Ulama Tentang Demokrasi..?
    3. c.       Apa Persamaan dan Perbedaan Islam dan demokrasi..?
    4. d.      Apa Sajakah Demokrasi dalam Pandangan islam..?
    5. e.       Perbedaan Pendapat mengenai Demokrasi ..?
  2. C.    TUJUAN

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Sistem Demokrasi dari sudut pandang Agama Islam.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Demokrasi

Kata demokrasi yang bahasa Inggrisnya democracy berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu demos yang artinya rakyat, dan kratos berarti pemerintahan. Dalam pengertian ini, demokrasi berarti demokrasi langsung yang dipraktikkan di beberapa negara kota di Yunani kuno. Dengan demikian, demokrasi dapat bersifat langsung seperti yang terjadi di Yunani kuno, berupa partisipasi langsung dari rakyat untuk membuat peraturan perundang-undangan, atau demokrasi tidak langsung yang dilakukan melalui lembaga perwakilan. Demokrasi tidak langsung ini cocok untuk negara yang penduduknya banyak dan wilayahnya luas.

Menurut Sadek. J. Sulayman, dalam demokrasi terdapat beberapa prinsip baku yang harus diaplikasikan dalam sebuah Negara demokrasi, di antaranya:

1)      Kebebasan berbicara bagi seluruh warga.

2)      Pemimpin dipilih secara langsung yang dikenal di Indonesia dengan pemilu.

3)      Kekuasaan dipegang oleh suara mayoritas tanpa mengabaikan yang minoritas.

4)      Semua harus tunduk pada hukum atau yang dikenal dengan supremasi hukum.

Prinsip prinsip ini sejalan dengan Islam. Kenyataan ini bisa dilihat dari beberapa hal, misalnya mekanisme kepemimpinan dalam Islam yang tidak dianggap sah kecuali bila dilakukan dengan bai’at secara terbuka oleh semua anggota masyarakat. Seorang khalifah sebagai pemimpin tertinggi tidak boleh mengambil keputusan dengan hanya dilandaskan pada pendapat dirinya belaka, ia harus mengumpulkan pendapat dari para cendikiawan atau ahli pikir dari anggota masyarakat.

 

  1. Pandangan Ulama tentang Demokrasi

Menurut Yusuf al-Qardhawi yaitu substansi demokrasi sejalan dengan Islam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal, misalnya: Dalam demokrasi proses pemilihan melibatkan banyak orang untuk mengangkat seorang kandidat yang berhak memimpin dan mengurus keadaan mereka. Tentu saja mereka tidak akan memilih sesuatu yang tidak mereka sukai. Demikian juga dengan Islam. Islam menolak seseorang menjadi imam shalat yang tidak disukai oleh makmum di belakangnya, Usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam.Bahkan amar makruf dan nahi mungkar serta memberikan nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari ajaran Islam, Pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi. Karena itu, barangsiapa yang tidak menggunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak dipilih menjadi kalah dan suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenarnya tidak layak, berarti ia telah menyalahi perintah Allah untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan, Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Contohnya dalam sikap Umar yang tergabung dalam syura.

Mereka ditunjuk Umar sebagai kandidat khalifah dan sekaligus memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah berdasarkan suara terbanyak. Sementara lainnya yang tidak terpilih harus tunduk dan patuh. Jika suara yang keluar tiga lawan tiga, mereka harus memilih seseorang yang diunggulkan dari luar mereka. Yaitu Abdullah ibn Umar. Contoh lain adalah penggunaan pendapat jumhur ulama dalam masalah khilafiyah. Tentu saja, suara mayoritas yang diambil ini adalah selama tidak bertentangan dengan nash syariat secara tegas, Juga kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan merupakan sejumlah hal dalam demokrasi yang sejalan dengan Islam.

  1. III.             Persamaan dan Perbedaan Islam dan Demokrasi
    1. Persamaan yang mempertemukan Islam dan demokrasi, diantaranya adalah :

–          Demokrasi diartikan sebagai sistem yang diikuti asas pemisahan kekuasaan, itu pun sudah ada di dalam Islam.

–          Demokrasi seperti definisi Abraham Lincoln : dari rakyat dan untuk rakyat pengertian itu pun ada di dalam sistem negara Islam dengan pengecualian bahwa rakyat harus memahami Islam secara komprehensif.

–          Demokrasi adalah adanya dasar-dasar politik atau sosial tertentu

–          Mengutamakan persamaan hak dan kewajiban dalam berbagai bidang kehidupan.

–          Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

–          Mengutamakan persamaan derajat dan kedudukan.

  1. Perbedaan Islam dan Demokrasi

Demokrasi yang sudah populer di Barat, definisi bangsa atau umat dibatasi batas wilayah, iklim, darah, suku-bangsa, bahasa dan adat-adat yang mengkristal. Akan tetapi menurut Islam, umat tidak terikat batas wilayah atau batasan lainnya. Ikatan yang hakiki di dalam Islam adalah ikatan akidah, pemikiran dan perasaan. Siapa pun yang mengikuti Islam, ia masuk salah satu negara Islam terlepas dari jenis, warna kulit, negara, bahasa atau batasan lain. Dengan demikian, pandangan Islam sangat manusiawi dan bersifat internasional.

Tujuan-tujuan demokrasi Barat adalah tujuan-tujuan yang bersifat duniawi dan material. Jadi, demokrasi ditujukan hanya untuk kesejahteraan umat (rakyat) atau bangsa dengan upaya pemenuhan kebutuhan dunia yang ditempuh melalui pembangunan, peningkatan kekayaan. Adapun demokrasi Islam selain mencakup pemenuhan kebutuhan duniawi (materi) mempunyai tujuan spiritual yang lebih utama dan fundamental.

Kedaulatan umat (rakyat) menurut demokrasi Barat adalah sebuah kemutlakan. Jadi, rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi tanpa peduli kebodohan, kezaliman atau kemaksiatannya. Namun dalam Islam, kedaulatan rakyat tidak mutlak, melainkan terikat dengan ketentuan-ketentuan syariat sehingga rakyat tidak dapat bertindak melebihi batasan-batasan syariat, Al-Quran dan as-Sunnah tanpa mendapat sanksi.

Demokrasi bersifat tidak menentu (inkonsistensi) semua tergantung rakyat, sedangkan dalam Islam, syura berlandaskan nilai-nilai agama sifatnya tetap (konsisten) dan mutlak.

Menurut Dr. Dhiyauddin ar Rais mengatakan :

  1. Jika demokrasi diartikan sebagai sistem yang diikuti asas pemisahan kekuasaan, itu pun sudah ada di dalam Islam. Kekuasaan legislatif sebagai sistem terpenting dalam sistem demokrasi diberikan penuh kepada rakyat sebagai satu kesatuan dan terpisah dari kekuasaan Imam atau Presiden. Pembuatan Undang-Undang atau hukum didasarkan pada alQuran dan Hadist, ijma, atau ijtihad. Dengan demikian, pembuatan UU terpisah dari Imam, bahkan kedudukannya lebih tinggi dari Imam. Adapun Imam harus menaatinya dan terikat UU. Pada hakikatnya, Imamah (kepemimpinan) ada di kekuasaan eksekutif yang memiliki kewenangan independen karena pengambilan keputusan tidak boleh didasarkan pada pendapat atau keputusan penguasa atau presiden, melainkan berdasarkan pada hukum-hukum syariat atau perintah Allah Swt.
  2. Demokrasi seperti definisi Abraham Lincoln: dari rakyat dan untuk rakyat pengertian itu pun ada di dalam sistem negara Islam dengan pengecualian bahwa rakyat harus memahami Islam secara komprehensif.
  3. Demokrasi adalah adanya dasar-dasar politik atau sosial tertentu (misalnya, asas persamaan di hadapan undang-undang, kebebasan berpikir dan berkeyakinan, realisasi keadilan sosial, atau memberikan jaminan hak-hak tertentu, seperti hak hidup dan bebas mendapat pekerjaan). Semua hak tersebut dijamin dalam Islam.
  4. Demokrasi yang sudah populer di Barat, definisi bangsa atau umat dibatasi batas wilayah, iklim, darah, suku-bangsa, bahasa dan adat-adat yang mengkristal. Dengan kata lain, demokrasi selalu diiringi pemikiran nasionalisme atau rasialisme yang digiring tendensi fanatisme. Adapun menurut Islam, umat tidak terikat batas wilayah atau batasan lainnya. Ikatan yang hakiki di dalam Islam adalah ikatan akidah, pemikiran dan perasaan. Siapa pun yang mengikuti Islam, ia masuk salah satu negara Islam terlepas dari jenis, warna kulit, negara, bahasa atau batasan lain. Dengan demikian, pandangan Islam sangat manusiawi dan bersifat internasional
  5. Tujuan-tujuan demokrasi modern Barat atau demokrasi yang ada pada tiap masa adalah tujuan-tujuan yang bersifat duniawi dan material. Jadi, demokrasi ditujukan hanya untuk kesejahteraan umat (rakyat) atau bangsa dengan upaya pemenuhan kebutuhan dunia yang ditempuh melalui pembangunan, peningkatan kekayaan atau gaji. Adapun demokrasi Islam selain mencakup pemenuhan kebutuhan duniawi (materi) mempunyai tujuan spiritual yang lebih utama dan fundamental.
  6. Kedaulatan umat (rakyat) menurut demokrasi Barat adalah sebuah kemutlak

 

  1. Demokrasi dalam Pandangan Agaman Islam

Diantara tipuan syaitan terhadap manusia, ialah menghiasi kebatilan dengan kebaikan: Syaithan menamai sesuatu yang haram yang merupakan maksiat terhadap Allah, dengan nama-nama yang disenangi jiwa manusia. Ini dimaksudkan untuk menipu mereka dan memalsukan hakekat sebenarnya. Seperti halnya pohon yang diharamkan itu dinamai dengan khuldi (kekekalan) supaya Adam memandang baik dan mau memakannya, disebutkan dalam Al Qur’an bahwa syaithan berkata:

يَبْلَىٰ لَّا وَمُلْكٍ الْخُلْدِ شَجَرَةِ عَلَىٰأَدُلُّكَ هَلْ آدَمُ يَا قَالَ الشَّيْطَانُ إِلَيْهِ فَوَسْوَسَ

Artinya : “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Thaaha:120).

Dalam islam sendiri, tatanan pemerintahan tidak bersumber dari manusia, akan tetapi bersumber dari Allah SWT yang bertuang dalam Al – Quran. Sebenarnya islam telah lebih dulu melaksanakan demokrasi jauh sebelum adanya demokrasi Yunani. Demokrasi dalam islam terlebih dahulu muncul jauh dari demokrasi Yunani tercetus dan dikenal dengan istilah “syura”. Demokrasi dalam konsep islam tentu lebih jelas dalam demokrasi yang berasal dari Yunani tersebut.

  1. Perbedaan Pendapat Mengenai  Demokrasi
    1. golongan yang menolak tentang penerapan demokrasi, alasan mereka adalah Al-Qur’an surat Yusuf ayat 40

 

      ۚ سُلْطَانٍ مِنْ بِهَا اللَّهُ أَنْزَلَ مَا كُمْ وَآبَاؤُ أَنْتُمْ أَسْمَاءً أَسْمَاءً إِلَّا دُونِهِ مِنْ تَعْبُدُونَ مَا

يَعْلَمُونَ لَا النَّاسِ أَكْثَ وَلَٰكِنَّ الْقَيِّمُ الدِّينُ ذَٰلِكَ ۚ إِيَّاهُ إِلَّا تَعْبُدُوا أَلَّا أَمَرَ ۚ لِلَّهِ إِلَّا الْحُكْمُ إِنِ

“ Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama –      nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

  1. golongan yang mendukung demokrasi, alasan mereka adalah bahwa karena dalam demokrasi tercermin nilai-nilai agama seperti musyawarah.

–          Ciri Sistem Demokrasi dalam Pandangan Islam

  1. Berada di bawah payung agama Islam
  2. Rakyat diberi kebebasan untuk menyuarakan aspirasinya yang tentunya sesuai dengan nilai-nilai Islam
  3. Pengambilan keputusan senantiasa dilakukan dengan musyawarah
  4. Suara mayoritas tidak bersifat mutlak meskipun tetap menjadi pertimbangan utama dalam musyawarah
  5. Musyawarah hanya berlaku pada persoalan ijtihadi; manusia hanya boleh membahas mengenai masalah yang bersifat teknis, contohnya dalam kehidupan nyata.
  6. Produk hukum dan kebijakan yang diambil tidak boleh keluar dari nilai-nilai agama Islam
  7. Hukum dan kebijakan tersebut harus dipatuhi oleh semua warga

–          Prinsip-prinsip Demokrasi dalam Islam

 

Syura               suatu prinsip tentang cara pengambilan keputusan yang secara eksplisit ditegaskan dalam al-Qur’an.

QS. As-Syura:38

مَعْلُومٍ يَوْمٍ لِمِيقَاتِ السَّحَرَةُ فَجُمِعَ

 

Artinya : “ Lalu dikumpulkan para pesihir pada waktu (yang ditetapkan) pada hari yang telah ditentukan.”(QS. Asy-Syu’ara: 38)

QS. Ali Imran:159

 

      فَاعْفُ ۖحَوْلِكَ مِنْ لَانْفَضُّوا الْقَلْبِ غَلِيظَ فَظًّا كُنْتَوَلَوْۖ لَهُمْلِنْتَاللَّهِمِنَرَحْمَةٍفَبِمَا

     الْمُتَوَكِّلِينَيُحِبُّ اللَّهَ إِنَّ ۚاللَّهِ عَلَى فَتَوَكَّلْ عَزَمْتَ فَإِذَا  ۖالْأَمْرِ فِي وَشَاوِرْهُمْ لَهُمْ وَاسْتَغْفِرْ عَنْهُمْ

 

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Dalam praktik kehidupan umat Islam, lembaga yang paling dikenal sebagai pelaksana syura adalah ahl halli wa-l‘aqdi pada zaman khulafaurrasyidin. Lembaga ini lebih menyerupai tim formatur yang bertugas memilih kepala negara atau khalifah.